Maestro
Yosepha Alomang, Kartini Asal Papua yang Berjuang Menegakkan HAM dari Freeport
Sosok perempuan luar biasa dari ujung timur Indonesia ini
memang tak sepopuler tokoh nasional Kartini lainnya. Namun wanita yang biasa sehari-harinya
disapa Mama Yosepha ini pantas disebut sosok Kartini masa kini yang luar biasa.
Sebab meski namanya asing di Indonesia, tetapi bagi masyarakat Papua Mama
Yosepha adalah sosok yang banyak berjasa untuk masyarakat Papua, bahkan tak
berlebihan jika disebut pahlawan.
Kiprahnya dalam memajukan kehidupan masyarakat Papua dimulai
sejak usianya belia. Profesinya Sebagai bidan, Yosepha telah berusaha keras
tenaga dan bekerja extra untuk menolong orang-orang di sekitarnya. Saat budaya
alkohol dari luar memasuki tanah Papua, Yosepha juga menjadi salah satu
dari orang yang mengkampanyakan pelarangan minuman keras itu di Kota Timika
Papua. Tak hanya itu, Mama Yosepha juga tampil sebagai salah satu tokoh yang
membela hak-hak masyarakat adatnya Timika. Tak tanggung-tanggung, lawan yang
dihadapi Mama Yosepha adalah perusahaan raksasa milik Amerika serikat Freeport
Indonesia.
Mama
Yosepha juga Mendirikan Koperasi Buah Dan Sayuran
Sejak masih bayi, Mama Yosepha telah ditinggalkan ayah dan
ibu kandungnya yang meninggal di usia muda. Perempuan dari suku Amungme itu pun
tinggal dengan orang tua tiri dan hidup secara berpindah-pindah (nomaden).
Karena sistem administrasi yang tak baik di Papua kala itu, Yosepha tak
tahu kapan tepatnya dirinya lahir. Bahkan informasi tentang ayah dan ibunya pun
tak ada dokumen apapun yang mencatatnya.
Kiprah Yosepha memajukan Tanah Papua Kususnya Timika dimulai dengan mendirikan
koperasi untuk memasarkan buah-buahan dan sayuran hasil kebun warga. Hal ini
didukung oleh sejumlah wanita dan Gereja Katolik. Ia dan beberapa perempuan pun
sempat melakukan protes dengan menghancurkan buah dan sayuran impor. Hal ini
disebabkan kerena PT Freeport mendatangkan bahan tersebut sayur mayur dari luar daerah, sehingga petani
Papua tidak bisa berkutik.
Mama Yosepha Mengkampanyekan
Pelarangan minuman Alkohol di Timika
Berkat bantuan dari program Misi Gereja Katolik, perempuan
kelahiran daerah Tsinga itu bisa mengenyam pendidikan. Setelah itu, Yosepha
bekerja sebagai bidan dan banyak orang tertolong berkat kerja kerasnya yang
sangat cekatan menangani pasien. Yosepha menikah sekitar tahun 1970-an. Mahligai
rumah tangga Yosepha dan sang suami diterpa prahara akibat maraknya alkohol di
tanah Papua kala itu.
Banyak warga yang mengalami kecanduan alkohol, termasuk
suami Yosepha. Keadaan semakin memburuk karena sang suami malah menjual harta
benda yang mereka miliki demi membeli alkohol.Karena itu, Yosepha bersama
beberapa orang lainnya bertindak dan mengkampanyekan pelarangan peredaran
alkohol secara bebas di Timika. Tindakan Yosepha yang sangat berani membuat
banyak orang terkesima. Sejak itu, Yosepha memutuskan untuk tidak diam seperti
kebanyakan orang. Dirinya menyadari bahwa kalau kita mau berusaha maka perubahan akan terjadi jika manusia
mau berusaha untuk mengubahnya.dan perubahan itu datang ketika kita mau keluar dari budaya mabuk-mabukan itu.
Kiprah
Yosepha Menentang Penindasan PT Freeport
Jika dikaitkan dengan Pt Freeport, maka nama Mama Yosepha
mempunyai tempat tersendiri disana. Sebab wanita ini adalah sosok yang dikenal sebagai
pahlawan yang memperjuangkan hak-hak rakyat Papua yang kehilangan hak-haknya yang di sebabkan oleh Pt Freeport. Berbagai protes melalui lisan maupun tindakan terus-menerus ia lakukan.
Yosepha pun harus kehilangan nyawa salah satu anak sulungnya saat bersembunyi di
hutan karena kelaparan. Perempuan ini dan warga Amungme pada saat itu harus lari ke hutan
sebab dikejar-kejar oleh pihak berwajib setelah memotong pipa milik Pt Freeport. Latar
belakang tindakan ini dikarena Pt Freeport telah dianggap merugikan dan merampas tanah yang
merupakan milik rakyat Amungme.
Tidak berhenti di situ, Mama Yosepha juga menjadi otak aksi
demonstrasi di Bandara udara Timika dengan memasang api di landasan udara.
Tindakan ini dilakukan sebagai protes sebab pemerintah dan pihak Freeport tak
mau mendengarkan aspirasi dan keluhan rakyat Papua yang diperlakukan dengan buruk. Satu kali Mama Yosepha pernah ditangkap karena dicurigai menolong petinggi-petinggi Organisasi Papua
Merdeka, Kelly Kwalik. Ia pun dihukum dengan dimasukkan ke penampungan kotoran
manusia setinggi lutut selama seminggu.
Mama Yosepha juga Mendirikan
Fasilitas untuk Warga Papua, dari Panti Asuhan Hingga Klinik
Meski Mama Yosepha pernah ditangkap, Yosepha tak pernah menyerah dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua dan
malah semakin tak gentar. Perempuan ini dengan berani mengajukan tuntutan
perdata terhadap Freeport McMoRan Cooper And Gold di Amerika Serikat. Dalam
tuntutan itu, dirinya meminta kepada pihak Pt Freeport untuk memberikan ganti rugi bagi
kerusakan alam dan penderitaan yang dirasakan warga Papua karena Ula Pt Freeport.
Tuntutan itu disetujui dan Yosepha mendapat $48.000 dari
Freeport. Uang yang ia dapatkan kemudian digunakan untuk membangun sejumlah
fasilitas yang diberi nama Kompleks Yosepha Alomang. Kompleks ini
terdiri dari panti asuhan anak yatim, klinik, monument pelanggaran HAM, dan
gedung pertemuan.
Penghargaan
Dunia di berikan Bagi Mama Yosepha
Meski Mama Yosepha telah mendapat ganti rugi dari Freeport,
tapi hal itu tidak menyurutkan perjuangannya melawan raksasa tambang itu.
Selama masih ada korban karena ula Pt Freeport, Yosepha akan terus maju untuk mengusahakan
penutupan Pt Freeport.
Karena usahanya dalam yang memperjuangkan hak-hak asasi
warga Papua, Yosepha mendapat Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun
1999. Hadiah dana dari penghargaan ini digunakan Yosepha untuk mendirikan
Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK). Tak hanya itu, perempuan
ini pun meraih The Goldman Environmental Prize di tahun 2001.
Keteguhan dan keberanian Mama Yosepha dalam memperjuangkan
hak-hak rakyat Papua memang tak diragukan lagi. Meski harus ditangkap, dibuang
di penampungan kotoran dan penderitaan lainnya, wanita ini tetap pada
pendiriannya. Yaitu mendapatkan apa yang harusnya menjadi hak-hak kaumnya.
Salut!







No comments:
Post a Comment