Monday, April 24, 2017

MAESTRO PEREMPUAN PAPUA-MAMA YOSEPHA

Maestro Yosepha Alomang, Kartini Asal Papua yang Berjuang Menegakkan HAM dari Freeport


Sosok perempuan luar biasa dari ujung timur Indonesia ini memang tak sepopuler tokoh nasional Kartini lainnya. Namun wanita yang biasa sehari-harinya disapa Mama Yosepha ini pantas disebut sosok Kartini masa kini yang luar biasa. Sebab meski namanya asing di Indonesia, tetapi bagi masyarakat Papua Mama Yosepha adalah sosok yang banyak berjasa untuk masyarakat Papua, bahkan tak berlebihan jika disebut pahlawan.

Kiprahnya dalam memajukan kehidupan masyarakat Papua dimulai sejak usianya belia. Profesinya Sebagai bidan, Yosepha telah berusaha keras tenaga dan bekerja extra untuk menolong orang-orang di sekitarnya. Saat budaya alkohol dari luar memasuki tanah Papua, Yosepha juga  menjadi salah satu dari orang yang mengkampanyakan pelarangan minuman keras itu di Kota Timika Papua. Tak hanya itu, Mama Yosepha juga tampil sebagai salah satu tokoh yang membela hak-hak masyarakat adatnya Timika. Tak tanggung-tanggung, lawan yang dihadapi Mama Yosepha adalah perusahaan raksasa milik Amerika serikat Freeport Indonesia.

Mama Yosepha juga Mendirikan Koperasi Buah Dan Sayuran

Sejak masih bayi, Mama Yosepha telah ditinggalkan ayah dan ibu kandungnya yang meninggal di usia muda. Perempuan dari suku Amungme itu pun tinggal dengan orang tua tiri dan hidup secara berpindah-pindah (nomaden).  Karena sistem administrasi yang tak baik di Papua kala itu, Yosepha tak tahu kapan tepatnya dirinya lahir. Bahkan informasi tentang ayah dan ibunya pun tak ada dokumen apapun yang mencatatnya.


Kiprah Yosepha memajukan Tanah Papua Kususnya Timika dimulai dengan mendirikan koperasi untuk memasarkan buah-buahan dan sayuran hasil kebun warga. Hal ini didukung oleh sejumlah wanita dan Gereja Katolik. Ia dan beberapa perempuan pun sempat melakukan protes dengan menghancurkan buah dan sayuran impor. Hal ini disebabkan kerena PT Freeport mendatangkan bahan tersebut sayur mayur dari luar daerah, sehingga petani Papua tidak bisa berkutik.

Mama Yosepha Mengkampanyekan Pelarangan minuman Alkohol di Timika 

Berkat bantuan dari program Misi Gereja Katolik, perempuan kelahiran daerah Tsinga itu bisa mengenyam pendidikan. Setelah itu, Yosepha bekerja sebagai bidan dan banyak orang tertolong berkat kerja kerasnya yang sangat cekatan menangani pasien. Yosepha menikah sekitar tahun 1970-an. Mahligai rumah tangga Yosepha dan sang suami diterpa prahara akibat maraknya alkohol di tanah Papua kala itu.


Banyak warga yang mengalami kecanduan alkohol, termasuk suami Yosepha. Keadaan semakin memburuk karena sang suami malah menjual harta benda yang mereka miliki demi membeli alkohol.Karena itu, Yosepha bersama beberapa orang lainnya bertindak dan mengkampanyekan pelarangan peredaran alkohol secara bebas di Timika. Tindakan Yosepha yang sangat berani membuat banyak orang terkesima. Sejak itu, Yosepha memutuskan untuk tidak diam seperti kebanyakan orang. Dirinya menyadari bahwa kalau kita mau berusaha maka perubahan akan terjadi jika manusia mau berusaha untuk mengubahnya.dan perubahan itu datang ketika kita mau keluar dari budaya mabuk-mabukan itu.

Kiprah Yosepha Menentang Penindasan PT Freeport

Jika dikaitkan dengan Pt Freeport, maka nama Mama Yosepha mempunyai tempat tersendiri disana. Sebab wanita ini adalah sosok yang dikenal sebagai pahlawan yang memperjuangkan hak-hak rakyat Papua yang kehilangan hak-haknya yang di sebabkan oleh Pt Freeport. Berbagai protes melalui lisan maupun tindakan terus-menerus ia lakukan. Yosepha pun harus kehilangan nyawa salah satu anak sulungnya  saat bersembunyi di hutan karena kelaparan. Perempuan ini dan warga Amungme pada saat itu harus lari ke hutan sebab dikejar-kejar oleh pihak berwajib setelah memotong pipa milik Pt Freeport. Latar belakang tindakan ini dikarena Pt Freeport telah dianggap merugikan dan merampas tanah yang merupakan milik rakyat Amungme.


Tidak berhenti di situ, Mama Yosepha juga menjadi otak aksi demonstrasi di Bandara udara Timika dengan memasang api di landasan udara. Tindakan ini dilakukan sebagai protes sebab pemerintah dan pihak Freeport tak mau mendengarkan aspirasi dan keluhan rakyat Papua yang diperlakukan dengan buruk. Satu kali Mama Yosepha pernah ditangkap karena dicurigai menolong petinggi-petinggi Organisasi Papua Merdeka, Kelly Kwalik. Ia pun dihukum dengan dimasukkan ke penampungan kotoran manusia setinggi lutut selama seminggu.

Mama Yosepha juga Mendirikan Fasilitas untuk Warga Papua, dari Panti Asuhan Hingga Klinik

Meski Mama Yosepha pernah ditangkap, Yosepha tak pernah menyerah dalam memperjuangkan hak-hak masyarakat Papua dan malah semakin tak gentar. Perempuan ini dengan berani mengajukan tuntutan perdata terhadap Freeport McMoRan Cooper And Gold di Amerika Serikat. Dalam tuntutan itu, dirinya meminta kepada pihak Pt Freeport untuk memberikan ganti rugi bagi kerusakan alam dan penderitaan yang dirasakan warga Papua karena Ula Pt Freeport.


Tuntutan itu disetujui dan Yosepha mendapat $48.000 dari Freeport. Uang yang ia dapatkan kemudian digunakan untuk membangun sejumlah fasilitas yang diberi nama Kompleks Yosepha Alomang. Kompleks ini terdiri dari panti asuhan anak yatim, klinik, monument pelanggaran HAM, dan gedung pertemuan.

Penghargaan Dunia di berikan Bagi Mama Yosepha

Meski Mama Yosepha telah mendapat ganti rugi dari Freeport, tapi hal itu tidak menyurutkan perjuangannya melawan raksasa tambang itu. Selama masih ada korban karena ula Pt Freeport, Yosepha akan terus maju untuk mengusahakan penutupan Pt Freeport.


Karena usahanya dalam yang memperjuangkan hak-hak asasi warga Papua, Yosepha mendapat Penghargaan Yap Thiam Hien pada tahun 1999. Hadiah dana dari penghargaan ini digunakan Yosepha untuk mendirikan Yayasan Hak Asasi Manusia Anti Kekerasan (YAHAMAK). Tak hanya itu, perempuan ini pun meraih The Goldman Environmental Prize di tahun 2001.
Keteguhan dan keberanian Mama Yosepha dalam memperjuangkan hak-hak rakyat Papua memang tak diragukan lagi. Meski harus ditangkap, dibuang di penampungan kotoran dan penderitaan lainnya, wanita ini tetap pada pendiriannya. Yaitu mendapatkan apa yang harusnya menjadi hak-hak kaumnya. Salut!



No comments:

Post a Comment